Cerita Liburan Keluarga ke Lombok: Semua Lebih Mudah Sejak Kami Pakai Rental Mobil Lombok
Anak sulungku mau ke pantai yang ada ombak besar untuk surfing. Adiknya minta yang ada kolam renangnya di penginapan karena tidak bisa renang tapi tidak mau ketinggalan sensasi main air. Istriku pengen wisata budaya pasar tradisional, tenun, mungkin desa adat. Dan aku sendiri, sejujurnya, hanya mau perjalanan yang tidak bikin aku stres soal hal-hal teknis yang seharusnya tidak perlu memakan pikiran sebanyak itu.
Lombok adalah kompromi yang mengejutkan. Semua permintaan itu ternyata bisa dipenuhi di satu pulau, dengan itinerary yang tidak memerlukan keajaiban logistik untuk dijalankan.
Tapi ada satu keputusan yang mengubah seluruh kualitas perjalanan itu dari yang sekadar "lumayan" menjadi "yang terbaik dalam beberapa tahun terakhir": kami menyewa mobil sendiri dari hari pertama sampai hari terakhir.
Ini cerita lengkapnya.
Sebelum Berangkat: Drama Perencanaan yang Hampir Selalu Ada
Keluarga kami terdiri dari lima orang. Aku, istri, dan tiga anak yang usianya lumayan tersebar si sulung 17 tahun, tengah 13 tahun, dan si bungsu yang baru masuk sekolah dasar tahun lalu, umur 7 tahun. Rentang usia yang membuatnya menarik sekaligus menantang karena kebutuhan dan stamina tiap orang sangat berbeda.
Persiapan liburan kali ini dimulai sekitar dua bulan sebelum keberangkatan. Tanggal sudah ditentukan, tiket pesawat sudah dibeli, dan yang tersisa adalah soal akomodasi dan transportasi selama di Lombok.
Untuk akomodasi, kami akhirnya pilih penginapan di kawasan Senggigi alasannya karena dari sana akses ke berbagai penjuru Lombok relatif merata, tidak terlalu jauh ke selatan maupun ke utara. Harganya juga masih masuk akal untuk tipe kamar yang cukup untuk lima orang.
Untuk transportasi ini yang makan waktu paling lama dalam diskusi kami.
Istriku awalnya usul ikut paket wisata. Alasannya masuk akal: tidak perlu mikir rute, ada pemandu yang bisa kasih informasi soal tempat-tempat yang dikunjungi, dan secara teknis lebih simpel karena semua sudah diurus. Aku setengah setuju, tapi ada bagian dari aku yang tidak bisa lepas dari kekhawatiran soal fleksibilitas bagaimana kalau si bungsu kelelahan di tengah hari dan perlu istirahat lebih lama? Bagaimana kalau kami mau berhenti lebih lama di satu tempat karena ternyata bagus sekali?
Paket wisata tidak punya jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan-pertanyaan itu.
Anak sulungku yang justru paling vokal soal sewa mobil sendiri. Dia sudah punya gambaran Lombok dari konten-konten yang dia tonton, dan katanya dengan cukup percaya diri, "Kalau mau bisa ke mana-mana bebas, ya sewa mobil sendiri lah, Pa."
Perdebatan itu berlangsung hampir satu minggu via grup keluarga yang notifikasinya aku mute di jam kerja sebelum akhirnya kami semua setuju untuk sewa mobil sendiri.
Mencari Penyedia yang Bisa Dipercaya untuk Lima Orang
Begitu keputusan sudah bulat, aku mulai riset penyedia rental yang bisa kami andalkan untuk lima orang dengan barang bawaan yang tidak sedikit.
Untuk keluarga lima orang, pilihan kendaraan yang paling masuk akal adalah Avanza atau Innova dua kendaraan yang kapasitasnya cukup dengan ruang bagasi yang tidak terlalu sempit untuk koper keluarga. Aku tidak mau ambil risiko dengan kendaraan yang ukurannya pas-pasan karena perjalanan panjang di ruang sempit dengan tiga anak bisa menjadi sumber konflik tersendiri.
Dari beberapa nama yang muncul di forum dan grup wisata Lombok, Lepas Kunci Lombok adalah salah satu yang paling konsisten mendapat sebutan positif. Bukan hanya dari solo traveler atau pasangan, tapi juga dari beberapa akun yang ceritanya spesifik soal liburan keluarga sesuatu yang membuat rekomendasinya terasa lebih relevan dengan kebutuhanku.
Aku hubungi mereka dan langsung ceritakan kondisi kami: lima orang, tiga anak dengan rentang usia yang berbeda, rencana perjalanan lima hari, rute yang mencakup selatan, timur, dan utara Lombok. Dari situ mereka langsung kasih gambaran yang membantu pilihan unit yang sesuai kapasitas, estimasi biaya, dan beberapa catatan penting soal kondisi jalan di rute yang aku sebutkan.
Yang aku apresiasi adalah detail soal rute ke Sembalun mereka tidak sekadar bilang "jalannya bagus kok" atau sebaliknya menakut-nakuti. Mereka jelaskan dengan realistis bahwa jalurnya memang menantang di beberapa titik tapi sangat bisa ditempuh dengan kendaraan yang kondisinya baik dan pengemudi yang tidak panik. Untuk keluarga dengan anak kecil, mereka rekomendasikan berangkat pagi sebelum panas dan tidak terburu-buru.
Saran yang terasa datang dari pengalaman, bukan dari script layanan pelanggan.
Proses booking selesai dalam satu hari. Uang muka ditransfer, detail perjalanan dikonfirmasi, dan nomor kontak untuk koordinasi hari H sudah aku simpan.
Hari Pertama: Lima Orang, Satu Mobil, Segudang Harapan
Penerbangan kami tiba di Bandara Internasional Lombok pukul sebelas siang. Lima orang keluar dari pintu kedatangan dengan empat koper dan dua tas ransel yang kalau ditumpuk mungkin tingginya melebihi si bungsu.
Mobilnya sudah ada. Bersih, AC langsung dingin, dan bagasinya cukup untuk menampung semua bawaan kami meski butuh sedikit strategi Tetris untuk menyusunnya. Si sulung langsung ambil tempat di baris ketiga "biar ada space buat selonjoran" katanya dengan nada yang mencerminkan usianya. Si tengah dan si bungsu duduk di baris kedua, dan aku sama istri di depan.
Tujuan pertama: makan siang. Bukan destinasi wisata, bukan pantai, tapi warung makan yang sudah aku tandai dari hasil riset seminggu sebelumnya warung lokal di pinggir jalan menuju Senggigi yang beberapa traveler sebut sebagai tempat makan paling worth yang pernah mereka coba di Lombok.
Warungnya tidak kelihatan dari jalan utama. Aku hampir melewatinya kalau tidak lihat plang kecil di pojok gang. Dari luar terlihat sederhana meja plastik, kursi plastik, kipas angin yang suaranya lebih keras dari musiknya. Tapi begitu makanan datang, semua orang di meja kami diam dalam arti yang baik.
Ayam bakar dengan bumbu yang meresap sampai ke tulang, plecing kangkung dengan sambal terasi yang segar, dan nasi putih pulen yang masih mengepul. Si bungsu yang biasanya pilih-pilih soal makanan tiba-tiba minta nambah yang bagi kami sebagai orangtua adalah tanda yang lebih menggembirakan dari preview destinasi wisata manapun.
Dari warung itu kami langsung ke penginapan di Senggigi. Check-in, beberes sebentar, dan sore harinya kami jalan santai ke pantai Senggigi yang jaraknya cukup untuk ditempuh jalan kaki dari penginapan.
Hari pertama yang tidak spektakuler tapi terasa sangat benar.
Hari Kedua: Kuta dan Tanjung Aan, Pelajaran Soal Waktu
Hari kedua kami berangkat pukul tujuh pagi keputusan yang awalnya sempat protes dari si sulung yang katanya liburan seharusnya bisa tidur siang.
"Nanti kalau pantainya sudah ramai baru tahu rasa," kata istriku, yang dalam hal ini lebih paham ritme perjalanan dibanding semua orang di mobil.
Perjalanan dari Senggigi ke Kuta Lombok sekitar satu setengah jam. Anak-anak tidur hampir sepanjang jalan si bungsu bahkan sudah terlelap lima belas menit setelah keluar dari Senggigi. Aku dan istri ngobrol pelan di depan, membicarakan rencana hari ini sambil sesekali memperhatikan pemandangan yang terus berganti di luar jendela.
Masuk kawasan Lombok Tengah, karakter jalannya mulai berbeda dari barat. Lebih lurus, lebih lapang, dengan sawah di kanan kiri yang warnanya bergantung musim hari itu sebagian masih hijau muda, sebagian sudah menguning siap panen.
Tiba di Kuta Lombok sekitar pukul setengah sembilan. Anak-anak yang tadi tidur langsung terbangun begitu mobil masuk ke parkiran dekat pantai entah karena insting atau karena mencium aroma laut yang langsung masuk ke kabin.
Pantai Kuta di jam itu masih sangat sepi. Beberapa surfer sedang menunggu ombak di titik yang lebih ke tengah, dan selebihnya hamparan pasir bersih yang nyaris tanpa jejak kaki.
Si bungsu langsung berlari ke tepi air tanpa perlu diajak. Tangannya menyentuh ombak kecil yang datang, tertawa, lari mundur, dan kembali lagi. Siklus yang dia ulangi mungkin tiga puluh kali dalam dua puluh menit pertama.
Kami habiskan hampir dua setengah jam di Kuta. Jauh lebih lama dari yang ada di itinerary tapi karena tidak ada jadwal yang mengikat, tidak ada yang merasa bersalah atau terburu-buru.
Dari Kuta kami lanjut ke Tanjung Aan yang jaraknya tidak jauh. Di sini, pasirnya berbeda dari Kuta lebih halus di sebagian area, dan ada bagian yang berbutir seperti merica dengan warna kemerahan yang unik. Si tengah yang suka hal-hal saintifik langsung minta penjelasan kenapa pasirnya bisa berbeda warna, dan dari situ lahirlah diskusi panjang yang pengetahuanku soal geologi pesisir ternyata tidak sepenuhnya memadai untuk menjawabnya.
Kami ketawa.
Bukit Merese dan Pelajaran Soal "Ini Lebih Bagus dari Foto"
Sore hari kedua kami naik ke Bukit Merese. Ini yang sudah paling ditunggu-tunggu oleh anak sulungku yang sudah menyimpan foto spot ini di ponselnya berbulan-bulan sebelumnya.
Jalan menuju area parkir ada tanjakan pendek yang cukup serius. Dengan kendaraan yang kami sewa dari layanan rental mobil Lombok ini, tanjakan itu tidak jadi masalah mesin kendaraan bekerja dengan baik, dan kami sampai di parkiran tanpa drama.
Dari parkiran, jalur naik ke puncak membutuhkan waktu sekitar 15 menit jalan kaki. Si bungsu minta digendong di tengah jalan, yang membuat perjalanan naik menjadi sedikit lebih lambat tapi tidak kurang menyenangkan.
Di puncak, si sulung yang pertama sampai langsung mengeluarkan suara yang tidak bisa dituliskan dengan huruf jenis ekspresi yang keluar otomatis ketika pemandangan di depan melebihi semua ekspektasi yang sudah dibangun dari foto-foto di internet.
Hamparan savana kuning kecoklatan, dua pantai dari sisi yang berbeda, laut biru yang warnanya terlalu sempurna untuk terasa nyata, dan langit sore yang sudah mulai mengubah warnanya perlahan ke arah oranye.
Kami duduk di sana hampir satu jam. Si bungsu yang tadinya minta digendong tiba-tiba berlari ke sana ke sini mengikuti kupu-kupu yang ternyata cukup banyak di kawasan rumput kering itu. Si tengah sibuk dengan ponselnya mengambil foto dari berbagai sudut. Dan si sulung yang usianya sudah di titik di mana menunjukkan kekaguman secara terbuka sering terasa tidak cool duduk diam cukup lama melihat ke horizon.
Aku duduk di sebelah istriku. Tidak banyak bicara. Kadang tidak perlu banyak kata untuk menandai sesuatu sebagai momen yang akan lama diingat.
Sunset di Bukit Merese adalah salah satu yang paling sering kami bicarakan sampai sekarang, jauh setelah perjalanan itu selesai.
Hari Ketiga: Desa Sade dan Sisi Lombok yang Lain
Hari ketiga kami sengaja buat lebih santai dari sisi fisik tapi lebih kaya dari sisi pengalaman. Istriku sudah dari awal memasukkan Desa Sade ke dalam daftar wajib wisata budaya yang menurutnya penting untuk anak-anak lihat langsung, bukan hanya dari buku atau konten digital.
Desa Sade terletak di Lombok Tengah, sekitar 30 menit dari kawasan Kuta. Desa adat suku Sasak ini masih mempertahankan arsitektur tradisional dengan rumah-rumah berbahan bambu dan tanah liat yang disusun rapat mengikuti kontur lahan. Yang paling menarik perhatian anak-anak adalah lantai rumah yang dibersihkan dengan cara yang tidak lazim sesuatu yang sengaja tidak aku ceritakan di sini supaya kamu juga bisa merasakan kejutannya langsung waktu ke sana.
Kami berkeliling desa dengan pemandu lokal seorang pemuda yang fasih berbahasa Indonesia dengan sedikit aksen Sasak yang terdengar hangat. Dia cerita soal kehidupan desa, soal adat pernikahan Sasak, soal proses tenun yang perempuan-perempuan desa masih lakukan sampai sekarang dengan alat yang sama yang digunakan nenek moyang mereka.
Si tengah yang biasanya susah anteng ternyata mendengarkan dengan sangat serius. Beberapa kali mengajukan pertanyaan yang cukup detail soal berapa lama membuat satu kain, soal apakah motif yang berbeda punya makna yang berbeda, soal apakah anak-anak muda desa juga masih belajar menenun.
Aku lirik istri. Dia senyum dengan ekspresi yang artinya: ini persis yang aku harapkan dari perjalanan ini.
Setelah dari Desa Sade kami mampir ke pasar tradisional kecil di sekitar kawasan itu untuk istri yang ingin cari kain tenun langsung dari sumbernya. Kami habiskan hampir satu jam di sana istriku bernegosiasi dengan sabar, anak-anak mencicipi jajanan yang dijual di sudut pasar, dan aku duduk di pinggir dengan mata setengah mengantuk yang cukup wajar untuk seorang ayah yang sudah berjalan cukup jauh sejak pagi.
Hari Keempat: Sembalun, Ujian Terbesar dan Hadiah Terbesar
Ini hari yang sudah aku pikirkan paling lama sejak awal perencanaan. Rute ke Sembalun dengan tiga anak termasuk si bungsu yang 7 tahun bukan sesuatu yang bisa aku anggap remeh.
Kami berangkat pukul enam pagi. Lebih pagi dari hari-hari sebelumnya, dan itu keputusan yang ternyata sangat tepat.
Perjalanan dari Senggigi ke Sembalun membutuhkan waktu sekitar tiga jam dengan kondisi normal. Anak-anak tidur lagi di perjalanan si bungsu paling duluan, diikuti si tengah sekitar 30 menit kemudian. Hanya si sulung yang tetap terjaga, memandangi jalan dari kursi paling belakang sambil sesekali kirim pesan ke teman-temannya tentang kondisi di jalan.
Sekitar satu jam sebelum Sembalun, karakter jalan berubah. Mulai menanjak, mulai berkelok, dan si tengah yang tadi tidur terbangun karena tubuhnya merasakan guncangan di beberapa tikungan tajam.
"Kita di mana?" tanyanya dengan nada setengah sadar.
"Mau ke kaki Rinjani," jawabku.
Dia langsung duduk tegak dan mulai melihat ke luar jendela. Dan dari ekspresinya aku tahu dia tidak kecewa dengan pemandangan yang menyambut.
Jalur menanjak menuju Sembalun bagi aku sebagai pengemudi cukup membutuhkan konsentrasi tikungannya ketat di beberapa titik dan ada beberapa ruas yang lebar jalannya hanya cukup untuk dua kendaraan kalau keduanya melambat saat berpapasan. Tapi tidak ada yang terlalu ekstrem untuk kendaraan dengan kondisi baik dan pengemudi yang tidak panik.
Beberapa kali anak-anak mengeluarkan suara takjub saat pemandangan tiba-tiba terbuka di balik tikungan lereng-lereng bukit yang ditutupi hutan, jurang yang dalam di satu sisi dengan sungai kecil yang kelihatan dari jauh di dasarnya, dan akhirnya sekitar 45 menit sebelum masuk lembah Sembalun Rinjani muncul untuk pertama kalinya.
Si bungsu yang baru bangun dari tidur keduanya melihat ke arah yang sama dengan semua orang. Matanya besar. Mulutnya terbuka sedikit.
"Itu gunungnya?" tanyanya pelan.
"Iya," jawabku.
Dia diam. Cukup lama untuk ukuran anak 7 tahun yang biasanya tidak pernah bisa diam lebih dari 30 detik.
Sembalun: Satu Lembah, Lima Orang, Satu Momen yang Tidak Terlupakan
Di Sembalun kami habiskan hampir empat jam lebih lama dari yang direncanakan, tapi tidak ada yang keberatan.
Naik ke Bukit Selong bersama-sama si bungsu digendong bergantian oleh aku dan si sulung yang ternyata dengan sukarela menawarkan diri, sesuatu yang mengejutkan dan mengharukan sekaligus. Dari puncak bukit kecil itu, seluruh lembah Sembalun terhampar dengan Rinjani sebagai latar yang tidak pernah cukup dilihat dari sudut manapun.
Makan siang di warung lokal yang menunya ditulis tangan di papan kecil di pintu masuk. Nasi putih, ayam goreng, dan sayur bening dengan labu siam yang rasanya seperti masakan rumah yang terlalu lama tidak dimakan. Tidak ada menu yang lebih dari dua puluh ribu per porsi. Kami makan sampai kenyang dengan total pengeluaran yang membuat istriku berkomentar, "Ini lebih murah dari sekali pesan online food di rumah."
Dan sebelum turun, kami berdiri sebentar di satu titik yang Rinjani terlihat paling jelas tanpa halangan apapun. Lima orang, berjejer, melihat ke arah yang sama.
Si sulung tiba-tiba bilang pelan, "Tahun depan kita balik, aku mau naik."
Tidak ada yang menjawab langsung. Tapi aku tahu semua orang di sana, dalam hati masing-masing, sudah setuju.
Hari Kelima: Perjalanan Pulang yang Tidak Buru-buru
Penerbangan kami sore hari. Jadi pagi terakhir di Lombok kami tidak kemana-mana yang jauh hanya menyusuri pantai Senggigi sekali lagi, sarapan di warung yang sama dengan hari pertama, dan beberes penginapan dengan tenang tanpa tekanan.
Aku kembalikan mobil ke titik yang sudah disepakati sekitar pukul dua siang. Sebelum menyerahkan kunci, aku duduk sebentar di bangku pengemudi.
Lima hari. Kurang lebih 600 kilometer yang kami tempuh bersama di pulau yang tidak ada satupun dari kami pernah kunjungi sebelumnya. Semua perjalanan itu terasa lancar bukan karena tidak ada hambatan sama sekali, tapi karena ketika ada hal-hal yang perlu disesuaikan si bungsu yang tiba-tiba tidak enak badan di hari ketiga dan perlu istirahat lebih lama dari rencana, atau jalan yang ternyata ditutup karena ada perbaikan dan kami harus cari rute lain semua itu bisa diselesaikan dengan tenang karena kendaraannya ada di tangan kami.
Tidak ada yang perlu dinegosiasikan dengan sopir. Tidak ada jadwal paket wisata yang harus diikuti. Semua keputusan besar maupun kecil ada di tangan kami sebagai keluarga.
Yang Membuat Semua Ini Bisa Terjadi
Ada beberapa faktor yang menentukan kenapa perjalanan keluarga ini berjalan sebaik yang berjalan.
Perencanaan akomodasi dan itinerary yang cukup detail tapi tidak terlalu kaku. Stamina anak-anak yang ternyata lebih baik dari yang kami perkirakan. Dan cuaca Lombok yang bersahabat sepanjang lima hari itu.
Tapi di antara semua faktor itu, satu hal yang paling menentukan adalah keputusan untuk sewa mobil Lombok sendiri dari hari pertama. Bukan karena lebih murah meski secara total memang lebih efisien dibanding bayar transportasi per perjalanan untuk lima orang. Tapi karena dengan mobil sendiri, seluruh dinamika perjalanan berubah.
Tidak ada lagi kepanikan soal "kita harus sudah di sini jam sekian". Tidak ada lagi perasaan tidak enak karena si bungsu tiba-tiba perlu berhenti sebentar di tengah jalan. Tidak ada lagi momen frustrasi karena harus sesuaikan keinginan keluarga dengan jadwal yang dibuat orang lain untuk kepentingan orang lain.
Lima hari itu terasa benar-benar milik kami.
Untuk Keluarga yang Sedang Merencanakan Lombok
Kalau kamu sekarang sedang di fase merencanakan liburan keluarga ke Lombok dengan anak-anak, dengan orangtua, atau dengan kombinasi anggota keluarga yang kebutuhannya beragam ini yang paling ingin aku sampaikan:
Jangan remehkan pentingnya transportasi yang tepat. Lombok bukan destinasi yang bisa dinikmati dengan berharap transportasi dadakan tersedia kapanpun kamu butuhkan. Destinasinya tersebar, jaraknya nyata, dan untuk keluarga yang membawa anak kecil atau lansia, fleksibilitas untuk berhenti, beristirahat, dan mengubah rencana di tengah jalan itu bukan kemewahan itu kebutuhan dasar.
Untuk keperluan itu, kami menggunakan layanan Lepas Kunci Lombok dan dari pengalaman lima hari itu, tidak ada momen di mana kami menyesal dengan pilihan tersebut. Kendaraannya sesuai yang dijanjikan, prosesnya mudah, dan informasi yang mereka berikan sebelum keberangkatan sangat membantu kami berkendara dengan lebih percaya diri di pulau yang baru pertama kali kami kunjungi.
Cek ketersediaan dan detail layanan di rental mobil Lombok jauh sebelum tanggal keberangkatan. Untuk liburan keluarga di musim ramai, unit yang paling sesuai kebutuhan bisa habis dipesan lebih awal dari yang kamu perkirakan.
Dan kalau ada satu saran terakhir yang aku bisa berikan untuk liburan keluarga ke Lombok: berangkatlah lebih pagi dari yang kamu rencanakan. Hampir semua destinasi terbaik di pulau ini punya versi yang jauh lebih indah dan lebih tenang sebelum keramaian datang. Dengan mobil sendiri, itu bukan sekadar saran itu sesuatu yang bisa benar-benar kamu lakukan.
Lombok menunggumu. Bawa keluargamu, bawa kendaraan yang bisa kamu percaya, dan biarkan pulau ini mengajarkan hal-hal yang tidak bisa diajarkan oleh destinasi manapun yang lebih ramai dan lebih mudah dijangkau.
Karena perjalanan terbaik bukan yang paling sempurna rencananya tapi yang paling bebas dijalaninya.
